Start here

Iklan

Demam Chikungunya, demam yang menyiksa..

ImageMungkin masih banyak diantara kita yang belum mengenal “Demam Chikunguya”. Chikunguya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditukarkan oleh nyamuk Aedes Albopictus. Virus ini digolongkan pada keluarga Togaviridae, genus alphavirus. Pada umumnya, virus ini menyerang kawasan tropis Asia dan Afrika. Sejak mulai teridentifikasi pada tahun 1952, epidemi ini terus berkembang hingga akhirnya menyebar di wilayah Indonesia.
Demam chikunguya pertama kali terjadi di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit lagi pada tahun1980, kali ini menyerang wilayah Jambi. Tahun 1983, chikunguya terjadi di Martapura, Ternate, dan Yogyakarta. Demam ini kemudian vakum selama lebih kurang 20 tahun hingga merebak besar-besaran pada tahun 2001 di Muara Enim, Sumatera Selatan. Setelah itu, demam ini seakan sudah populer di kawasan nusantara.
Kata chikunguya berasal dari Swahili yang berarti “yang berubah bentuk atau bungkuk”. Nama ini mengacu kepada postur tubuh penderita demam chikunguya, yang membungkuk,akibat nyeri sendi. Gejala demam chikunguya tidak jauh berbeda dengan gejala Demam Berdarah Dangue (DBD). Kedua Penyakit ini, chikunguya dan DBD, sama-sama disebabkan oleh virus yang dibawa lewat gigitan nyamuk aedes. Bedanya, DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes Agepty dan Chikunguya oleh nyamuk Aedes Albopictus.
Chikunguya ini tergolong unik. Pertama sekali terjadi demam tinggi disertai menggigil yang mirip gejala influenza. Lalu disertai dengan mual-muntah, sakit kepala dan sakit perut. Dalam 4 hari rasa nyeri dan ngilu mulai terasa di tulang kaki. Setelah itu di sekujur tubuh penderita timbul bercak-bercak merah. Pada tahap berikutnya, penderita akan mengalami kelumpuhan pada tangan dan kaki. Namun, kelumpuhan ini tidak berlangsung lama. Penderita akan segera sembuh dalam beberapa hari saja. Meskipun mirip dengan demam berdarah dengue, demam chikunguya tidak mengakibatkan pendarahan hebat, renjatan (shock), ataupun kematian.
Masa inkubasi chikunguya adalah 2 sampai 4 hari. Manifestasi penyakit berlangsung 3 sampai 10 hari. Virus ini termasuk self limiting disease yang artinya hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri dan sakit masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan.
Dalam prakteknya, tidak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikunguya. Penyakit ini hanya bisa dicegah. Diantaranya yaitu penghentian perkembangbiakan nyamuk dengan menggalakkan 3M (menutup saluran air, menguras penampungan air dan mengubur barang bekas) atau dengan menaburkan bubuk abate pada penampungan air, mirip dengan pencegahan terhadap demam berdarah dengue (DBD).
Pemberantasan terhadap nyamuk ini harus dilaksanakan secara ruitn dan berkala, karena berdasarkan penelitian dalam 10 hari sekali ratusan jentik berubah menjadi nyamuk. Jentik-jentik itu apabila dibiarkan akan berkembang pesat hingga membahayakan kehidupan manusia.ImageImage

Iklan

Kebersamaan itu masih ada dan tetap ada…

Seusai jam pelayanan Puskesmas, hari ini semua karyawan UPT. Puskesmas sungkai bergotong royong membersihkan ruang kerja dan ruang pelayanannya. Mulai dari petugas kartu,  Yunita dan Hutimatul Jannah mengatur tata letak lemari dan buku-buku arsip. Saking semangatnya ada karyawan yang melepas sepatunya di atas map folder pasien. Hahaaa… ooh iyaa, ngomong-ngomong lemari kartunya baru beli lhooo..GambarGambarDan Petugas Logistik barang juga tidak tinggal diam, Yuniar Darmayanti, S.kep ikut membantu dengan tenaga dalamnya, ciaaattt… semangaaat…kuaat-kuat !! Ibu Saniah, Amd juga ikut andil..Gambar

Ruang Pelayanan Obat juga tidak mau ketinggalan, Rina Sari SSi, Apt dengan dibantu Perawat Apriyati, Amd dan Retno, Amd mengatur tata letak lemari. GambarKepala Tata Usaha kami juga tidak berpangku tangan, Laily Hidayati, SKM mengatur dan merapikan Ruang Tamu dengan dibantu petugas Gizi, Zaleha, Amd.GambarSetelah saya cermati, karyawan Puskesmas Sungkai memiliki kebersamaan yang cukup tinggi, walaupun ada beberapa orang karyawan yang sibuk dengan laporannya diakhir tahun. GambarTanpa kami sadari kegiatan hari ini sangat mendukung dalam kelancaran pelaksanaan audit eksternal nanti pada pertengahan bulan Januari 2013. Semoga…

MENGENAL KISAH KLASIK PENYAKIT KUSTA (part 1)

PENDAHULUAN

Sepanjang sejarah peradaban manusia, selama itu pula kusta ada di dunia. Stigmatisasi sebagai manusia terkutuk karena dihinggapi penyakit menular tak tersembuhkan ini hingga kini masih menjadi ganjalan utama dalam memutus rantai penularan. Akibatnya, meski secara signifikan terjadi penurunan angka prevalensi, kasus-kasus baru selalu bermunculan.

Secara nasional target eliminasi atau penurunan jumlah kasus penyakit kusta sudah dicapai sejak tahun 2000 dengan angka prevalensi (jumlah kasus lama dan baru) kurang dari satu per 10.000 penduduk. Sayangnya hal itu tidak terjadi di 12 provinsi—terdiri dari 140 kabupaten/kota—yang tergolong endemik kusta.

Prevalensi di 12 wilayah itu masih berada pada kisaran angka 2,9. Artinya, di antara 10.000 penduduk rata-rata terdapat tiga penderita kusta. Wilayah-wilayah tersebut umumnya berada di bagian timur Indonesia, kecuali Nanggroe Aceh Darussalam dan Jawa Timur yang berada di wilayah barat.

Kasus baru selalu saja ditemukan di berbagai tempat. Terhitung sejak tahun 2000 rata-rata per tahunnya tak kurang dari 15.000 penderita kusta baru terdeteksi oleh petugas kesehatan.

Dalam hal ini Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah penyandang kusta terbanyak. Proporsi jumlah kasus barunya sepertiga dari angka nasional. Sebagian penderita kusta terkonsentrasi di daerah tapal kuda atau sepanjang pantai utara Jawa Timur. Total ada 16 daerah endemis, antara lain, Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Lamongan, Situbondo, Mojokerto, dan Bojonegoro.

Secara keseluruhan jumlah penderita kusta tahun 2005 diperkirakan mencapai minimal 21.000 kasus. Di samping sulitnya menekan jumlah kasus, angka kecacatan yang ditimbulkan belum juga turun dari 8 persen per tahun.

Sepuluh persen di antaranya adalah anak-anak. Golongan ini patut mendapat perhatian karena penularan kusta terkait dengan daya tahan tubuh. Anak-anak satu setengah kali lebih mudah terpapar dibandingkan dengan dewasa.

Faktor usia, jenis kelamin, ras, lingkungan, serta rendahnya tingkat sosial ekonomi diduga mempunyai korelasi yang erat terhadap berkembangnya penyakit kusta. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan akan mengakibatkan kekurangan pangan, sandang, dan papan, yang meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit.

Permasalahannya memang bukan terletak pada upaya pengobatan karena sejak Mycobacterium leprae, kuman penyebab kusta, ditemukan oleh Gerhard Armauer Hansen tahun 1873, terbukalah kesempatan yang memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan tentang penyakit kusta.

Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta berasal dari bahasa India Kustha, dikenal sejak 1400 tahun sebelum Masehi. Kata Lepra ada disebut-sebut dalam kitab Injil, terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa penyakit kulit lainnya. Ternyata bahwa pelbagai deskripsi mengenai penyakit ini sangat kabur, apalagi jika dibandingkan dengan dengan kusta yang kita kenal sekarang ini.

 

DEFINISI

Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yan terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat.

 

SINONIM

Leprae, morbus Hansen.

 

EPIDEMIOLOGI

Mycobacterium leprae untuk pertama kalinya ditemukan oleh G.A Hansen dalam tahun 1873. Manusia dianggap sebagai sumber penularan. Namun akhir-akhir ini ada anggapan bahwa kuman Leprae bisa langsung menularkan kepada manusia. kusta mempunyai masa inkubasi 2 – 5 tahun, akan tetapi dapat juga bertahun-tahun.

Penularan dapat terjadi apabila M. Leprae yang solid keluar dari tubuh penderita dan masuk kedalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lama dengan penderita. Tempat masuk kuman kusta kedalam tubuh sampai saat ini diperkirakan melalui saluran pernapasan bagian atas.

 

 

DIAGNOSIS

 

Diagnosis penyakit kusta hanya dapat didasarkan pada penemuan tanda utama (cardinal sign), yaitu :

  1. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa (anastesi) atau kurang rasa (hipestesi). Kelainan kulit dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hipopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritamatous).
  2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa :
  3. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa
  4. Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise)
  5. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, pembengkakan (edema) dan lain-lain.

 

Peradangan saraf (neuritis) kusta dapat dirasakan nyeri, namun kadang-kadang tidak (silent neuritis).Image

     6 BTA positif

Bahan pemeriksaan BTA  diambil dari kerokan kulit (skin smear) asal cuping telinga (rutin) dan bagian aktif suatu lesi kulit. Pemeriksaan kerokan kulit hanya dilakukan pada kasus yang meragukan.Image

 

 

Untuk mendiagnosis penyakit kusta, minimal harus ditemukan satu cardinal sign. Tanpa adanya cardinal sign, kita hanya boleh menyatakan sebagai tersangka (suspek) kusta.

Tanda-tanda suspek kusta :

  1. Tanda-tanda pada kulit
    1. Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih atau benjolan
    2. Kulit mengkilap
    3. Bercak yang tidak gatal
    4. Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak ditumbuhi rambut
    5. Lepuh tidak nyeri
    6. Tanda-tanda pada saraf
      1. Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka
      2. Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka
      3. Adanya cacat (deformitas)
      4. Luka yang tidak sakit

 

KLASIFIKASI

Menurut WHO, penyakit kusta dibagi dalam 2 tipe, yaitu :

  1. Kusta tipe PB (Pausi Basiler/ sedikit kuman)
  2. Kusta tipe MB (multi Basiler/ banyak kuman)

 

Pedoman untuk menentukan klasifikasi/ tipe penyakit kusta menurut WHO adalah sebagai berikut :

 

Tanda Utama

PB

MB

Bercak yang mati rasa/ kurang rasa di kulit

Jumlah 1 s/d 5

Jumlah > 5

Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi

Hanya satu saraf

Lebih dari satu saraf

Sediaan apusan

BTA negatif

BTA positif

 

PENGOBATAN

Regimen MDT (Multi Drugs Treatment) yang dianjurkan oleh WHO adalah :

  1. Penderita Pausi Basiler (PB)

Dewasa

Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) :

ü  2 kapsul rifampisin @ 300 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)

Pengobatan harian : hari ke 2 – 28 (dibawa pulang) :

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)

 

1 blister untuk 1 bulan

Lama pengobatan: 6 blister diminum selama 6 – 9 bulan

 

  1. Penderita Multi Basiler (MB)

Dewasa :

Pengobatan bulanan pada hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) :

ü  2 kapsul Rifampisin @ 300 mg

ü  3 kapsul Lampren @ 100 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100mg)

Pengobatan hari ke 2 – 28

ü  1 tablet Lamprene 50 mg

ü  1 tablet Dapsone (DDS 100mg)

1 blister untuk 1 bulan

Lama pengobatan : 12 – blister diminum selama 12 – 18 bulan.

 

 

Dosis MDT Menurut Umur

 

Sebagai pedoman praktis untuk dosis MDT bagi penderita kusta diberikan bagan sebagai berikut :

 

Tipe PB

< 10 tahun

10    -14 tahun

  • 15 tahun

Keterangan

Rifampicin

Berdasarkan BB

450 mg/ bulan

600 mg/ bulan

Diminum didepan petugas

DDS

50 mg

100 mg

50 mg/ hari

100 mg/ hr

Minum di rumah

Tipe MB

 

 

 

 

Rifampicin

Berdasarkan BB

450 mg/ bulan

600 mg/ bulan

Minum didepan petugas

 

DDS

50 mg/ bulan

100 mg/ bulan

50 mg/ hari

100mg/ hari

Minum dirumah

Clofazimine (Lampren)

100 mg/ bulan

150 mg/ bulan

300 mg/ bulan

Minum didepan petugas

50 mg, 2 kali seminggu

50 mg/ hari

50 mg/ hari

Minum dirumah

 

Dosis MDT bagi anak di bawah 10 tahun :

–          Rifampicin             :  10 – 15 mg/ kgBB

–          DDS                      :  1 – 2 mg/ kg BB

–          Lampren                :  1 mg/ kgBB

 

 

EFEK SAMPING OBAT-OBAT MDT

Efek samping DDS :

–          Bila terjadi gejala alergi (kulit bintik-bintik merah, gatal, mengelupas atau sesak napas) terhadap obat ini, hentikan dulu pemberian DDS kemudian konsultasikan ke dokter untuk dipertimbangkan tindakan selanjutnya.

–          Bila H rendah, hentikan pemberian DDS dan perbaiki keadaan umum penderita.

–          Gangguan pada saluran cerna seperti : anoreksia, mual, muntah.

–          Gangguan pada saraf seperti neuropati perifer, sakit kepala, vertigo, penglihatan kabur, sulit tidur, psikosis.

 

Efek samping Lampren :

 

–          Warna kulit terutama pada infiltrate/ bercak berwarna ungu sampai kehitam-hitaman yang akan hilang sendiri setelah pengobatan selesai

–          Gangguan pencernaan berupa diare, nyeri pada lambung. Bila gejala ini menjadi berat, hentikan pemberian lampren.

 

Efek samping Rifampisin :

–          Dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal. Dengan pemberian Rifampicin 600mg/ bulan tidak berbahaya bagi hati dan ginjal. Sebelum pemberian obat ini perlu dilakukan tes fungsi hati.

–          Perlu diberitahukan kepada penderita bahwa air seni akan berwarna merah bila minum obat.

 

 

HAL-HAL YANG PERLU DISAMPAIKAN PADA PENDERITA

 

Sebelum memulai MDT, tanyakan pada penderita apakah ada riwayat alergi terhadap obat-obat tertentu. Selain itu, penderita harus mendapatkan penjelasan mengenai hal-hal sebagai berikut :

–          Lama pengobatan

–          Cara minum obat

–          Kusta dapat disembuhkan bila minum obat teratur dan lengkap

–          Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada keluarga dan orang lain serta dapat terjadi kecacatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi ;

 

–          Ditjen PPM dan PLP. Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta. Cetakan XV. Jakarta, 2002.

–          Prof. Dr. adhi Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketiga. FKUI, 2000.

Pusat Latihan Kusta Nasional. Modul Pelatihan Kusta. Makassar, 2002.

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JABATAN FUNGSIONAL PERAWAT AHLI DI BAPELKES PROVINSI KAL SEL BANJARBARU

ImageJabatan Fungsional merupakan kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang PNS dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Didalam kegiatannya dengan kurun waktu tertentu diharuskan membuat satuan nilai dari tiap butir kegiatan yang harus dicapai pada pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/ keterampilan, atau biasa disebut angka kredit.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, Bapelkes sebagai ujung tombak penyelenggara berbagai Pelatihan yang diakui oleh Pemerintah Propinsi Kalsel. Seperti Diklat Public Health Nursing (PHN) yang berlangsung mulai tanggal 9 sampai dengan 14 juli 2012, Surveilans Epidemiologi dari tanggal 27 sampai 31 agustus 2012 dan Pelatihan Jabatan Fungsional Perawat ahli dari tanggal 2 sampai 12 Desember 2012.

Berdasarkan Surat Perintah Tugas dari Dinkes Kabupaten Banjar Nomor : 010/ 8011- I/ DINKES, menugaskan 6 orang perawat Ahli  yaitu Johny Ramon, S.Kep (UPT PKM Kertak Hanyar, H. Alfiansyah, S.Kep (UPT. PKM Gambut), Yuniar Darmayanti, S.Kep dan Kamarullah S.Kep (UPT. PKM Sungkai), Armuni, S.Kep (UPT. PKM Aranio) dan Budiansyah, S.Kep (UPT. PKM Simpang Empat.

            Pelaksanaan Pelatihan diawali dengan registrasi peserta yang datang kepada panitia. Acara dimulai dengan pembukaan oleh  Kepala Bapelkes Banjarbaru Drs. A. Murjani, M.kes SH, MH. Setelah acara  pembukaan dilakukan kegiatan perkenalan semua peserta sebanyak 30 orang. Selama kegiatan 12 hari diisi sesuai dengan jadwal. Adapun materi yang didapatkan adalah sebagai berikut :

A.     Kebijakan Nasional Bidang Kesehatan dan Keperawatan

Kebijakan ini meliputi Sistem Kebijakan Nasional (SKN), Kebijakan dan Program direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisian Medik, dan regulasi Keperawatan

B.     Aspek Etik dan Legal Keperawatan

Dalam bab ini dijelaskan mengenai pengertian nilai dan etika keperawatan, prinsip-prinsip dan nilai etik keperawatan, analisis/ pemecahan dilemma etik.

Dalam Aspek legal keperawatan dijelaskan mengenai hukum keperawatan, hak pasien, kewenangan perawat, legal issue dalam keperawatan

C.     Penanggulangan Bencana dan Wabah

Dalam bab ini dijelaskan mengenai pengertian bencana, jenis ancaman bencana, tahapan disaster, kiat-kiat menghadapi bencana sesuai jenis dan tempatnya, kegiatan penanggulangan KLB di lapangan

D.     Manajemen Kepemimpinan dalam Sarana Pelayanan

Model system pemberian asuhan keperawatan antara lain keperawatan tim, modular, case management nursing dan lain-lain.

Keperawatan tim merupakan salah satu system pemberian asuhan keperawatan dimana sekelompok perawat professional dan vokasional memberikan asuhan keparawatan secara komprehensif. Dalam hal ini seorang perawat professional ditunjuk sebagai ketua tim yang harus mampu menggunakan teknik kepemimpinan/ managemen sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada

E.      Teknologi Tepat Guna Bidang Kepemimpinan

Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, social, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini  haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama. Contoh : penggunaan obat-obatan tradisional

F.      Standart Pedoman Operasional (SPO) bidang Keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan sebaiknya mengacu pada SOP yang telah ditetapkan dan berlaku pada institusi tersebut Hal ini ditujukan untuk melindungi masyarakat yang menerima pelayanan, regulasi praktik dari perawat, informasi public, rujukan legal/ evaluasi praktik

G.     Jafung Perawat

Jabatan fungsional perawat ada dua yaitu perawat pelaksana dan perawat ahli sesuai dengan jenjangnya. Oleh karena peserta adalah lulusan dari S1 Keperawatan dan Ners maka jabatan yang disandang adalah perawat ahli

  1. H.     Pemberian Asuhan Keperawatan Individu/ Keluarga/ Kelompok

Perawat tidak hanya melakukan perawatan individu, akan tetapi terutama bagi perawat Puskesmas fokus pemberian keperawatan bisa juga ditujukan kepada keluarga/ kelompok/ masyarakan (Perkesmas)

I.        Perhitungan Angka Kredit dan Pengajuan

Disini dijelaskan mengenai penghitungan angka kredit untuk kenaikan jabatan dan pangkat bagi perawat baik pelaksana maupun ahli

J.      Karya Tulis/ Ilmiah bidang Keperawatan/ Kesehatan

Karya tulis ilmiah yang dimaksud adalah karya tulis yang ditujukan untuk tugas untuk mendapatkan gelar maupun pengembangan dalam bidang keperawatan dan mendapatkan angka kredit sesuai dengan jenis karya tulis dan distribusinya. Jenis-jenis karya tulis ilmiah diantaranya : Makalah, Artikel, Kertas kerja, Komentar, Resensi, Skripsi, Tesis, dan desertasi

K.     Pelayanan Prima Keperawatan

Pelayanan prima pada hakekatnya sangat tergantung pada Man (pemberi pelayanan), Money (pembiayaan), Machine (sarana prasarana/ fasilitas kesehatan), Management (kebijakan-kebijakan yang ada), Market (sasaran)

 

            Setelah berakhirnya Diklat tersebut masing-masing peserta mendapatkan sertifikat dengan jumlah 90 jam pelajaran @ 45 menit yang bernilai dua kredit.

MENURUNKAN ANGKA PREVALENSI PENYAKIT DIARE DENGAN STOP BAB SEMBARANGAN (BABS)

ImageSampai saat ini, diperkirakan 47 % masyarakat Indonesia masih buang air besar sembarangan, ada yang berperilaku buang air besar ke sungai, kebon, sawah, kolam dan tempat-tempat terbuka lainnya. Perilaku tersebut jelas sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat, karena tinja dikenal sebagai media tempat hidupnya bakteri coli yang berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit diare.

Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan, antara lain anggapan membangun jamban itu mahal, lebih enak BAB di sungai, tinja dapat untuk pakan ikan, dan lain-lain yang akhirnya dibungkus sebagai alasan karena kebiasaan sejak dulu, sejak anak-anak, sejak nenek moyang dan sampai saat ini tidak mengalami gangguan kesehatan.

Alasan dan kebiasaan tersebut harus diluruskan dan dirubah karena akibat kebiasaan yang tidak mendukung pola hidup bersih dan sehat jelas-jelas akan memperbesar masalah kesehatan. Dipihak lain, bila mana masyarakat berperilaku higienis, dengan membuang air besar ditempat yang benar, sesuai dengan kaidah kesehatan, hal tersebut akan dapat mencegah dan menurunkan kasus-kasus penyakit menular. Dalam kejadian diare misalnya, dengan meningkatkan akses masyarakat sanitasi dasar, dalam hal ini meningkatkan jamban keluarga, akan dapat menurunkan kejadian diare 32 %.

Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran semua anggota keluarga dan mayarakat, sehingga keluarga dan mayarakat itu dapat menolong dirinya sendiri dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.

Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga. Oleh karena itu kesehatan perlu dijaga , dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta diperjuangkan oleh semua pihak secara totalitas.

Dalam lingkup rumah tangga, untuk ber PHBS kegiatannya cukup banyak seperti tidak merokok di dalam rumah, member ASI, menimbang balita secara rutin, memberantas jentik nyamuk dan lain-lain. Khusus dalam program PAMSIMAS, sebagaimana tercakup dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Ada 4 pilar ber PHBS, yaitu :

  1. Stop Buang Air Besar sembarangan (STOP BABS)
  2. Cuci Tangan pakai Sabun (CTPS)
  3. Pengamanan Air Minum Rumah tangga
  4. Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

Keadaan geografis wilayah kerja UPT Puskesmas Sungkai mayoritas berupa dataran rendah dan rawa dan pegunungan. Wilayah kerja Puskesmas Sungkai yang daerahnya berupa tanah rawa adalah desa Banua Hanyar, sebagian  Cintapuri dan Garis Hanyar. Sedangkan daerah yang berupa dataran tinggi atau pegunungan adalah desa Rantau Bujur, Loktanah, Rampah dan Telaga Baru. Hampir semua wilayah kerja Puskesmas Sungkai dapat dicapai dengan menggunakan transportasi  darat. Terkecuali pada musim hujan dimana jalanan menuju daerah pegunungan dan rawa tidak memungkinkan dilewati kendaraan roda empat.

Melirik kebiasaan masyarakat desa setempat yang sering buang air besar  sembarangan di sungai dan hutan berdampak pada angka prevalensi diare di daerah ini cukup tinggi. Berdasarkan hasil laporan mingguan (W2) diare dan hasil Pemantauan Wilayah setempat Kejadian Luar Biasa (PWS KLB) UPT. Puskesmas sungkai tahun 2010, angka prevalensi penyakit diare sebanyak 720 orang. Pada tahun 2011, tepatnya bulan Februari di wilayah kerja UPT Puskesmas sungkai diadakan Program PAMSIMAS. Salah satu programnya adalah stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). PAMSIMAS bekerja sama dengan masyarakat dan petugas Puskesmas sungkai untuk pembuatan jamban pada tiap-tiap rumah.

Selama berjalan kurang lebih 1 tahun, ada dua desa yang mendapatkan penghargaan dari Bupati Banjar karena mampu membuat desanya 100 % bebas dari kebiasaan BAB sembarangan. Desa yang berhasil itu adalah desa Berkat Mulya dan Sungkai Baru. Kedua desa tersebut menjadi pelopor desa stop buang air besar sembarangan. Setelah dianalisis dari laporan PWS KLB Puskesmas Sungkai tahun 2011, angka prevalensi penyakit diare menurun drastis yaitu 409 orang.

Setelah membandingkan angka prevalensi penyakit diare tahun 2010 dengan tahun 2011 terjadi penurunan yang signifikan oleh karena ada dua desa yang sudah berhasil melaksanakan program Stop BABS. sehingga dapat kita simpulkan dengan Program Stop BABS dapat menurunkan angka prevalensi penyakit diare di wilayah kerja UPT Puskesmas sungkai.

 

 

 

 

Referensi :

  1. Laporan Mingguan dan bulanan EWARS UPT Puskesmas Sungkai
  2. Laporan Bulanan P2 Diare UPT Puskesmas Sungkai
  3. Laporan Bulanan surveilans terpadu UPT Puskesmas Sungkai
  4. Pamsimas.org/index.php